Sunday, December 29, 2013

Dr. Said Aqil Siradj, dulu dan kini

 Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.*
(Arrahmah.com) - Perjalanan hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah). Karena itu, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah: “Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan ini mungkin salah satu hikmah yang dapat anda petik dari kewajiban membaca surat Al Fatihah pada setiap rakaat shalat. Pada surat ini terdapat permohonan kepada Allah Azza wa Jalla agar senantiasa menunjuki anda jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran.
Fenomena ini terus melintas dalam pikiran saya, gara-gara saya membaca pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj di berbagai media. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.
Untuk menguatkan klaimnya ini, Said Aqil merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi. Menurutnya: “Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat.”
Pernyataan Said Aqil ini menyelisihi fakta dan menyesatkan. Sebagai buktinya, pada Mukaddimah disertasi S3 yang ia tulis semasa ia kuliah di Universitas Umm Al Quro, hal: tha’ (ط) Said Aqil menyatakan: “Telah diketahui bersama bahwa umat Islam di Indonesia secara politik, ekonomi, sosial dan idiologi menghadapi berbagai permasalahan besar. Pada saat yang sama mereka menghadapi musuh yang senantiasa mengancam mereka. Dimulai dari gerakan kristenisasi, paham sekuler, kebatinan, dan berbagai sekte sesat, semisal syi’ah, Qadiyaniyah (Ahmadiyyah), Bahaiyah dan selanjutnya tasawuf.”
Pernyataan Said Aqil pada awal dan akhir disertasi S3-nya ini menggambarkan bagaimana pemahaman yang dianut oleh Universitas Umm Al Quro. Bukan hanya Syi’ah yang sesat, bahkan lebih jauh Said Aqil dari hasil studinya menyimpulkan bahwa paham tasawuf juga menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu pada akhir dari disertasinya, Said Aqil menyatakan: “Sejatinya ajaran tasawuf dalam hal “al hulul” (menyatunya Tuhan dengan manusia) berasalkan dari orang-orang Syi’ah aliran keras (ekstrim). Aliran ekstrim Syi’ah meyakini bahwa Tuhan atau bagian dari-Nya telah menyatu dengan para imam mereka, atau yang mewakili mereka. Dan idiologi ini sampai ke pada para pengikut Sekte Syi’ah berawal dari pengaruh ajaran agama Nasrani.” (“Silatullah Bil Kaun Fit Tassawuf Al Falsafy” oleh Said Aqil Siradj 2/605-606).
Karena menyadari kesesatan dan mengetahui gencarnya penyebaran Syi’ah di Indonesia, maka Said menabuh genderang peringatan. Itulah yang ia tegaskan pada awal disertasinya, sebagai andilnya dalam upaya melindungi Umat Islam dari paham yang sesat dan menyesatkan.
Namun, alangkah mengherankan bila kini Said Aqil menelan kembali ludah dan keringat yang telah ia keluarkan. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kini ia ingkari sendiri dan dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan “pembela” Syi’ah. Mungkinkah kini Said Aqil telah menjadi korban ancaman besar yang dulu ia kawatirkan mengancam Umat Islam di negeri tercinta ini?
*Penulis, lulusan Universitas Islam Madinah, dosen tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI)
(arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/11/09/dr-aqil-siradj.html#sthash.BeblfPa1.dpuf

Wednesday, December 25, 2013

Fenomena-Fenomena Aneh Seputar Hari Natal

Mohon maaf, tulisan ini bukan membahas hal-hal esensial sehubungan dengan Hari Natal. Sebab saya bukan umat Kristen. Insya Allah sampai hari ini masih Muslim. Tentu tidak etis jika saya mengurus keyakinan agama lain.
Tulisan ini hanya membahas sejumlah fenomena seputar Hari Natal yang menurut saya aneh.

Fenomena I:

Hari Natal selalu diidentikkan dengan kerusuhan, perang antaragama, situasi tidak aman. Sampai-sampai perayaan Natal di gereja selalu dikawal ketat oleh pihak keamanan.
Kenapa? Mungkin karena dulu pernah terjadi pengeboman di gereja saat berlangsung perayaan Natal. Siapapun pelakunya, saya secara pribadi mengutuk perbuatan tersebut. Jika pelakunya muslim, pasti dia bukan muslim yang baik. Menghargai, membiarkan dan menghormati keyakinan umat agama lain (termasuk ibadah mereka) merupakan salah satu sikap toleransi yang diajarkan oleh Islam. Pasti Rasulullah pun akan sangat marah jika ada umat Islam yang kejam seperti itu.
Namun apakah peristiwa pengeboman di gereja tersebut bisa kita jadikan alasan untuk menganggap bahwa perayaan Natal identik dengan kerusuhan, perang antaragama, situasi tidak aman? Menurut saya, ini pandangan yang terlalu berlebihan. Sebab pengeboman juga terjadi di sebuah kafe di Bali, di gedung perkantoran megah di Jakarta, di tempat-tempat yang tak ada kaitannya dengan perayaan ibadah agama manapun. Tapi kenapa hanya perayaan Natal yang diidentikkan dengan hal-hal buruk tersebut

Fenomena II:

Hampir semua ucapan “Selamat Hari Natal” dari umat nonKristen selalu dibarengi kalimat “mari menjaga toleransi”. Tentu saja, toleransi antarumat beragama itu sebuah keharusan di tengah keberagaman. Namun pertanyaannya, kenapa kalimat “mari menjaga toleransi” hanya muncul pada ucapan selamat Natal? Kenapa tidak muncul di ucapan Selamat Hari Waisak, Selamat Hari Nyepi, Selamat Idul Fitri, Selamat Idul Adha dan seterusnya?
Tentu toleransi BUKANLAH salah satu esensi penting dari perayaan Hari Natal. Menurut kepercayaan umat Kristen, hari Natal adalah untuk merayakan kelahiran tuhan mereka. Ini tentu tak ada kaitannya dengan toleransi, bukan?
Tapi kenapa ucapan dan anjuran toleransi hanya ditekankan pada perayaan Natal?
Jika dikaitkan dengan fenomena I di atas, saya kira ini terlalu berlebihan. Karena seperti yang sudah saya sebutkan, insiden pengeboman tidak hanya terjadi di gereja, tidak hanya terjadi di perayaan Natal.
Atau mungkin ada kaitannya dengan fenomena III di bawah ini?
NB: Tentu tidak masalah jika perayaan agama dijaga petugas keamanan, jika memang itu dianggap perlu. Namun jika perayaan agama diidentikkan dengan situasi buruk, peperangan dan sebagainya, itulah yang disebut keliru.

Fenomena III:

Muncul pemikiran salah kaprah bahwa sepertinya mengucapkan Selamat Hari Natal merupakan sebuah KEHARUSAN. Jika kita tidak mengucapkannya, maka dianggap tidak toleran.
Ya, ini adalah salah kaprah yang sangat kronis, sebab:
  1. Ada demikian banyak perayaan umat beragama di dunia ini. Ada Idul Fitri, ada Waisak, ada Nyepi, ada Paskah, ada Imlek, dan sebagainya. Selama ini, tidak pernah ada himbauan atau perintah untuk mengucapkan selamat hari waisak, selamat hari paskah, selamat imlek, selamat idul fitri, dan sebagainya. Kenapa himbauan tersebut hanya ditujukan pada Hari Natal?
  2. Ketika saya tidak mengucapkan selamat hari waisak, tidak mengucapkan selamat hari paskah, tidak mengucapkan selamat hari nyepi, dan sebagainya, maka TAK ADA yang mengatakan saya tidak toleran. Tapi ketika saya tidak mengucapkan selamat hari Natal, tiba-tiba saya disebut tidak toleran.
Hm… ada apakah di balik fenomena aneh ini? Sepertinya ada sebuah pengecualian untuk hari Natal. Sebuah pengecualian yang aneh dan membingungkan.
Mungkin teman-teman kita umat Kristen berargumen, “Hari Natal memang perkecualian, karena ini hari yang sangat istimewa. Ini adalah hari kelahiran tuhan kami.”
Ya, kita bisa memaklumi argumen tersebut, sebab itu bagian dari keyakinan mereka. Kita harus menghormatinya.
Tapi setiap orang tentu punya keyakinan masing-masing. Karena itu: Saat teman-teman Kristen menganggap Natal itu istimewa, tentunya Anda pasti tidak akan memaksakan kepada kami untuk ikut menganggap Hari Natal sebagai hari istimewa, bukan? Sebab Anda pun pasti tidak bersedia jika kami umat Islam menyuruh Anda menganggap Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari istimewa.

Fenomena IV:

Selama ini, sudah biasa diadakan tradisi perayaan Natal Bersama. Para pejabat (presiden, walikota, gubernur dan sebagainya) yang beragama Islam pun ikut hadir merayakan Natal di Gereja.
Banyak orang beranggapan, hal itu wajar-wajar saja, karena para pejabat tersebut adalah milik publik, bukan milik golongan tertentu saja.
Benar. Tapi bagaimanapun, para pejabat tersebut SECARA PRIBADI adalah muslim. Sebagai seorang muslim, mereka tentu masih terikat pada aturan-aturan dalam Islam. Dan dalam Islam, ikut merayakan ibadah agama lain merupakan sesuatu yang sangat tidak diperbolehkan.
Lagipula mari kita simak fakta berikut:
Jika di Indonesia, para pejabat sepertinya diharuskan untuk mengikuti perayaan Natal Bersama, apakah hal ini juga berlaku di negara lain? Apakah di negara-negara di mana umat Islam menjadi minoritas, ada acara Idul Fitri bersama dan dihadiri oleh para pejabat negara yang beragama selain Islam? TAK PERNAH ADA!
Bayangkan bila mayoritas penduduk Indonesia beragama Kristen dan presidennya orang Kristen. Apakah sang presiden akan mau mengikuti acara Idul Fitri Bersama? Saya tidak yakin dia mau. Ini bukan prasangka semata. Tapi pengalaman di tempat-tempat lain membuktikan hal itu.
Jadi, tentu perayaan Natal Bersama merupakan sesuatu yang sangat aneh. Bahkan bila kita melihat sejarahnya, sebenarnya perayaan Natal Bersama merupakan tradisi yang dilestarikan sejak zaman Orde Baru. Sebelum itu sama sekali belum pernah ada.
NB: Ada yang berargumen: Para pejabat tersebut tidak dipaksa datang, tapi hanya diundang.
Nah, di sinilah masalahnya. Kalau umat Kristen memang menghargai keyakinan umat Islam, seharusnya TAK PERLU MENGUNDANG para pejabat Muslim untuk menghadiri perayaan natal. Sebab bagi kami yang muslim, menghadiri seperti itu dosanya sangat besar.
Kami umat Islam juga tak pernah mengundang umat agama lain untuk menghadiri upacara ibadah agama Islam. Jadi untuk urusan agama, sebaiknya masing-masing saja. Yang namanya toleransi dan kerukunan hidup bisa diwujudkan dalam hal-hal lain.

Saturday, December 21, 2013

Tekanan Jiwa (stress)

"Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku." [HR.Turmudzi]



Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
Bismillaahirrohmaanirrohiim …
Tekanan Jiwa (stress)
Benarlah perkataan seorang penyair:
Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi
Pendahuluan:
Kehidupan Manusia di masa lalu relatif stabil. Ketenangan adalah keseharian dalam mayoritas kehidupan mereka karena minimnya faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan ketika itu.

- Tanggung jawab yang ditanggung ketika itu belum mengacaukan pikiran atau mempengaruhi aktivitasnya yang sederhana di perkebunan, rumah produksi atau di tempat perniagaan.

- Krisis kependudukan dan kemanusiaan ketika itu belum seperti keadaannya yang sekarang, di mana realita memaksa manusia menggunakan pola baru dalam berinteraksi dan memikul tanggung jawab.

Rumah hunian dan perabotannya tidaklah seperti sekarang yang menghimpit, di mana sebagiannya bertumpuk dengan sebagian yang lain. Sebagaimana kondisi yang ada dibanyak negara di dunia.

- Bahkan musibah yang menimpa manusia belumlah sehebat dan sedahsyat sekarang ini. Penyakit ketika itu belum lagi sekomlek dan dengan nama yang beraneka macam, yang menghantui manusia dan mengganggu kehidupannya, yang menjadikannya dibayang-bayangi ketakutan dan kecemasan, seiring lambatnya ditemukan obat penawarnya.

- Ketika itu peperangan tidak dapat membunuh ribuan manusia dalam waktu sekejap, sebagaimana teknologi dan instrumen perang yang ada seperti sekarang ini.

- Belum ada kejadian yang menelan korban mengerikan akibat kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, air atau alat transportasi lain ketika itu.

Dan di atas semua itu, krisis keuangan dan ekonomi membatasi manusia dan membalikkan keadaan berbagai umat dan bangsa dari kenikmatan dan kemewahan menjadi terpuruk dalam kefakiran dan kekurangan.

Serta perkara-perkara lain dari perubahan-perubahan, halangan-halangan dan problem yang berdampak negatif pada kehidupan manusia, yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan dan kekuatan potensialnya.

Itu artinya bahwa kemajuan teknologi yang disaksikan oleh dunia dan banyak berperan dalam memfasilitasi manusia, pada waktu yang sama justru memberatkan manusia itu sendiri dengan lebih banyak tanggung jawab dan kewajiban yang menyedot umur dan waktu mereka. Bahkan tak jarang datang bertubi-tubi sehingga tidak sanggup menghadapinya atau menyerah karena kontinuitasnya.

Dari sinilah mulai muncul tekanan kejiwaan (stres): yang berwujud pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan atau memikul tanggung jawab yang sebenarnya terfasilitasi dan memiliki kemungkinan yang terbuka.

Dampak Stress (Tekanan Jiwa)
Sesungguhnya stres pada banyak keadaan menyebabkan penderitanya tidak stabil, yang pada akhirnya memunculkan dampak dan efek negatif dalam kehidupan dan pergaulannya. Di antara dampak yang terpenting adalah:
1. Ada kalanya stres pada penderitanya melahirkan semacam prilaku kasar, keradikalan, kemarahan akan realita dan melihatnya dengan gelap mata. Ia berharap dapat keluar dari permasalahannya dan terkurangi tanggung jawabnya. Akan lebih parah jika tidak adapendampingan yang dapat mengurangi sebagian beban dan kepedihannya.

2. Stres menyebabkan menarik diri dan menjauh dari kehidupan, menjauh dari kenyataan, bahkan menjadikan penderitanya tenggelam dalam dunia khayal, terkendala dalam metode berpikir dan mencari solusi. Engkau dapati ia mendebat perkara dengan solusi filosofis yang rumit atau penafsiran yang ganjil yang tidak diterima oleh para pemikir dan orang kebanyakan.

3. Tekanan jiwa mempengaruhi dalam bergaul dengan orang lain atau menjalin hubungan dengan mereka. Dimana penderita tekanan jiwa akan sulit membangun hubungan dalam bertetangga, persahabatan dengan teman kerjanya, atau dengan siswa lain jika itu di sekolah, dengan orang banyak jika dia seorang pegawai, dengan para pegawai jika dia seorang kepala bagian atau direktur, juga dengan seluruh strata masyarakat di lingkungannya. Ia merupakan ancaman dalam membangun masyarakat, kepribadian dan lembaga sosial yang lebih maju, meningkat dan mumpuni.

4. Stres (tekanan jiwa) memiliki pengaruh yang besar pada anggota tubuh penderita. Penyakit yang di derita kebanyakannya adalah cerminan dari hakikat kondisi kejiwaan yang tengah dialami penderita. Karenanya para dokter menyarankan pasiennya untuk menjauhi hal-hal yang menimbulkan gejolak kejiwaan. Terutama mereka yang terkena liver, gangguan jiwa, kolesterol, gangguan lambung, usus dan lain sebagainya. Karena kejiwaan memiliki peran yang penting dalam mengontrol penyakit-penyakit tersebut, baik dalam penyembuhan atau dalam memperburuk dan membuatnya semakin parah.

5. Stres (tekanan jiwa) berpengaruh negatif dalam produktivitas kerja dan kreasi. Karena penderitanya kehilangan penyelaras dalam berinteraksi dengan berbagai hal. Buyar kekuatan dan kemampuan. Terlebih lagi tidak dapat konsekuen dalam mencapai tujuan dan mencapai target.

Obat Stres (Tekanan Jiwa)
Dikarenakan siapa pun dapat terkena tekanan jiwa, yang berdampak pada timbulnya masalah atau penyakit, sudah seharusnya diberikan terapi penyembuhan dan pengobatan yang dapat mencegah atau membatasi agar tidak menjangkit pada diri. Di antara penyembuhan dan terapinya:

1- Bertakwa kepada Allah I dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal saleh. Firman-Nya I:

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At-Thalaq: 2 )

Dan firman-Nya
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At-Thalaq: 4)

Kisah tiga orang yang terjebak di dalam goa tidak asing bagi kita. Allah I telah mengeluarkan mereka dari keterjebakan ketika setiap mereka menyebutkan amalan saleh yang dikerjakan ikhlas karena Allah I. Dengan amal mereka itulah mereka bertawasul kepada Allah .

2. Menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Karena dua hal ini dapat menguatkan dalam menghadapi berbagai problema dan tanggung jawab sehingga dapat tegar dan sukses menghadapinya. Hal ini sebagaimana firman Allah :

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153 )
Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah t berkata, "Jika Nabi r menghadapi perkara pelik, beliau melaksanakan shalat." [HR.Ahmad].Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah
.
--Sadarilah bahwa Allah sematalah yang mengangkat kesulitan manusia. Sesungguhnya kesulitan meskipun berlangsung berlarut-larut senantiasa Allah iringkan dengan solusi dan kemudahan. Allah I berfirman melalui lisan Nabi Ya'kub u:
"...Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87 )
Nabi bersabda dalam hadits Qudsi:
"Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku."[HR.Turmudzi]

Benarlah perkataan seorang penyair:
Begitu pelik, tapi ketika aku kembalikan kepada Penciptaannya
Ia teratasi, padahal aku sangka tidak akan teratasi

4. Berzikir kepada Allah (mengingat Allah) dengan keyakinan, ucapan dan amal merupakan sebab untuk dapat keluar dari kemelut, memberi ketegaran jiwa dan ketenangan.
Sebagaimana firman Allah 
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS.Ar-Ro'd:28)

5. Kontinu senantiasa beristigfar (meminta ampun kepada Allah). Sesungguhnya hal ini adalah salah satu dari sebab kebahagiaan dan ketenangan; sebagaimana ia dapat pula mengeluarkan dari bencana, menghilangkan kegalauan dan kegelisahan. Sebagaimana sabda Rasulullah r,

"Siapa yang kontinu beristigfar, Allah akan jadikan pada setiap kegalauannya solusi dan dari setiap kesulitan jalan keluar serta akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkan."
[HR.Abu Dawud, Ahmad dan Hakim]

6. Kembali kepada Allah dengan berdoa, karena doa dapat menghilangkan kegelisahan dan mengeluarkan dari kesusahan.Hal ini sebagaimana hadits Abu Sa'id al-Khudri :
"Pada suatu hari Rasulullah r masuk masjid. Beliau mendapati seorang lelaki Anshar, yang dipanggil Abu Umamah. Beliau berkata,
"Wahai Abu Umamah, aku tidak melihatmu duduk di masjid melainkan sedang shalat."
"Kegelisahan dan hutang melilitku, wahai Rasulullah." Jawabnya.
"Maukah aku ajarkan suatu kalimat, jika engkau katakan Allah akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutangmu?!" Tawar Rasulullah.

"Tentu wahai Rasulullah!" Jawab lelaki itu.
"Bacalah ketika pagi dan petang:
[ Allahumma Inni A'ûdzubika minalhammi walhazan wa a'ûdzubika minal'ajzi walkasal, wa a'ûdzubika minaljubni walbukhl, wa a'ûdzubika min ghalabatiddaini wa qohril rijal ]
Artinya:

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepadamu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadamu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepadamu dari dari lilitan hutang dan penindasan orang."
[HR.Abu Dawud]

Di antara doa Nabi Musa u kepada Allah agar dilapangkan dadanya, dimudahkan urusannya, dihilangkan kegelisahan dan kesedihannya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah I melalui lisan Nabinya:

"Musa berkata: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku."
(QS.Thâhâ:25-26)

7Mengerjakan sebab-sebab yang dapat membantunya sukses dalam kehidupan lalu bertawakal kepada Allah . Meminta kepada-Nya agar dapat mencapai dan memperoleh hasil yang terbaik. Amal dan tawakal adalah dua hal yang saling berkaitan untuk menangkal tekanan jiwa dan efek negatif yang ditimbulkannya. Allah I berfirman,

"Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq: 3 )

Siapa yang mencukupkan diri dengan Allah, tidak akan tersesat dan tidak akan celaka selamanya.

8. Tidak mengapa meminta bantuan para ahli dari dokter ahli jiwa atau selain mereka. Terkadang keadaan seseorang terasa begitu menghimpit, ia dikuasai rasa gundah, gelisah, sedih dan merana yang mengakibatkan tekanan pada dirinya. Jika berkonsultasi kepada yang lain, itu akan membantunya membuka pintu penting yang membuka cercahan cahaya dengan izin Allah.
Ringkas pembicaraan:
Bahwa tekanan jiwa pada akhirnya adalah buatan dan buah amal tangannya sendiri.
"(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Nya." (QS. Ali Imrah: 182 )

Karena timbulnya tekanan jiwa ini merupakan akibat dari kesalahan masa lalu yang bertumpuk dan membesar pada penderitanya. Dia tidak dapat mengolahnya dengan jalan yang benar hingga sampai pada puncaknya. Terasa begitu hebat di dalam diri dan memorak-porandakan harapan serta angan-angannya.

Setiap orang dapat mengalahkan tekanan ini dan menghindari pengaruh negatif yang timbul karenanya ketika sejak semula ia telah siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadapinya. Hal itu diperoleh dari pendidikan imaniah (pendidikan keimanan) yang benar bagi generasi putra dan putri di rumah, masjid, sekolah, lembaga-lembaga bimbingan dan pusat-pusat pendidikan.

Karena seorang hamba ketika bergantung kepada Allah I dan dapat merasakan keagungan serta penguasaan-Nya atas sesuatu pada satu sisi, juga merasakan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-Nya dari sisi yang lain, dia tidak akan merasa khawatir akan kesulitan dan tantangan, bahkan menjalani dan menghadapinya dengan ketegaran dan kesuksesan.

http://www.islamhouse.com/p/291703

Wednesday, December 4, 2013

Romantic Poets (Romantic Period)

Robert Burn adalah seorang yang berasal dari Scotland, berprofesi sebagai pembuat lyric
adalah salah satu yang  disebut sebagai sang pionir gerakan Romantic. disamping dia seorang composer, Burn juga mengumpulkan folk songs dari luar scotland, dan biasa merevisi dan juga mengadaptasi. salah satu karyanya yang sammpai sekarang masih terkenal adalah lagu berjudul Auld Lang Syne. selain itu juga puisi yang sangat terkenal yang pernah ia ciptakan yang di kenal dipenjuru dunia berjudul A Red, Red Rose

Speed Reading

Think about how much reading you do every day.
Perhaps you read the newspaper to catch up with what's going on in the world. You browse countless emails from colleagues. And you then read the books, reports, proposals, periodicals, and letters that make up an average day.
When you look at it, reading could be the work-related skill that you use most often!
It's also a skill that most of us take for granted by the time we reach the age of 12. After all, it seems that if we can read and comprehend textbooks, then, surely, we must be good readers?
Maybe not. And, given the time that reading consumes in our daily lives, it may be a skill that we can, and should, improve.
But what does becoming a better reader involve?
It means getting faster and more efficient at reading, while still understanding what you're reading. In this article, we'll look at how you can do this, and how you can unlearn poor reading habits.
How We Read
Advantages of Speed Reading
Note:
Breaking Poor Reading Habits
Sub-Vocalization
Reading Word-by-Word
Inefficient Eye Motion
Regression
Poor Concentration
Approaching Reading Linearly
Keys to Speed Reading Success
  • Practice, practice, practice – you have to use your skills on a regular basis. It took you several years to learn to read, and it will take time to improve your reading skills.
  • Choose easy material to start with – when you begin speed reading, don't use a challenging textbook. Read something like a novel or travel writing, which you can understand and enjoy with a quick once-over.
  • Speed read appropriately – not everything you read lends itself to speed reading.
  • Legal documents, the draft annual report, or even the letter you receive from a loved one in the mail – these are better read in their entirety, sub-vocalizations and all.
  • If you need to understand the message completely, memorize the information, discuss it in detail, analyze it thoroughly, or simply enjoy the prose the way the author intended, then speed reading is the wrong approach. (Here, it helps to choose an appropriate reading strategy   before you start.)
  • Use a pointer or other device to help push your reading speed – when you quickly draw a card down the page, or run your finger back and forth, you force your eyes and brain to keep pace.
  • Take a step back and use the material's structure – this includes skimming information to get a feel for the organization and layout of the text, looking for bolded words and headings, and looking for the ways in which the author transitions from one topic to the next.
  • When you start speed reading, it's wise to benchmark your current reading speed. This way you can tell whether your practice is paying off, and you can impress your friends and family when you tell them that you can now read faster. There are many speed reading assessments online. One such assessment can be found at ReadingSoft.com.
Tip:
Key Points
Although you spend a good part of your day reading, have you ever thought about how you read?
How do your eyes make sense of the shapes of the letters, and then put those letters together to form a sentence that you can understand?
When you actually think about it, reading is quite a complex skill. Previously, scientists believed that when you read, both of your eyes focused on a particular letter in a word. Recent research shows this isn't the case.
Scientists now believe that each of your eyes lock onto a different letter at the same time, usually two characters apart. Your brain then fuses these images together to form a word. This happens almost instantaneously, as we zip through pages and pages of text!
Many people read at an average rate of 250 words per minute. This means that an average page in a book or document would take you 1-2 minutes to read.
However, imagine if you could double your rate to 500 words per minute. You could zip through all of this content in half the time. You could then spend the time saved on other tasks, or take a few extra minutes to relax and de-stress.
Another important advantage of speed reading is that you can better comprehend the overall structure of an argument. This leads to a "bigger picture" understanding, which can greatly benefit your work and career.
Speed reading is a useful and valuable skill. However, there might be times when using this technique isn't appropriate. For instance, it's often best to read important or challenging documents slowly, so that you can fully understand each detail.
If you're like most people, then you probably have one or more reading habits that slow you down. Becoming a better reader means overcoming these bad habits, so that you can clear the way for new, effective ways of reading.
Below, we cover some of the most common bad reading habits, and discuss what you can do to overcome them.
Sub-vocalization is the habit of pronouncing each word in your head as you read it. Most people do this to some extent or another.
When you sub-vocalize, you "hear" the word being spoken in your mind. This takes much more time than is necessary, because you can understand a word more quickly than you can say it.
To turn off the voice in your head, you have to first acknowledge that it's there (how did you read the first part of this article?), and then you have to practice "not speaking." When you sit down to read, tell yourself that you will not sub-vocalize. You need to practice this until this bad habit is erased. Reading blocks of words also helps, as it's harder to vocalize a block of words. (See below for more on this.)
Eliminating sub-vocalization alone can increase your reading speed by an astounding amount. Otherwise, you're limited to reading at the same pace as talking, which is about 250-350 words per minute. The only way to break through this barrier is to stop saying the words in your head as you read.
Not only is it slow to read word-by-word, but when you concentrate on separate words, you often miss the overall concept of what's being said. People who read each word as a distinct unit can understand less than those who read faster by "chunking" words together in blocks. (Think about how your eyes are moving as you read this article. Are you actually reading each word, or are you reading blocks of two, or three, or five words?)
Practice expanding the number of words that you read at a time. You may also find that you can increase the number of words you read in a single fixation by holding the text a little further from your eyes. The more words you can read in each block, the faster you'll read!
Slow readers tend to focus on each word, and work their way across each line. The eye can actually span about 1.5 inches at a time, which, for an average page, encompasses four or five words. Related to this is the fact that most readers don't use their peripheral vision to see words at the ends of each line.
To overcome this, "soften" your gaze when you read – by relaxing your face and expanding your gaze, you'll begin to see blocks of words instead of seeing each word as distinct unit. As you get good at this, your eyes will skip faster and faster across the page.
When you get close to the end of the line, let your peripheral vision take over to see the last set of words. This way you can quickly scan across and down to the next line.
Regression is the unnecessary re-reading of material.
Sometimes people get into the habit of skipping back to words they have just read, while, other times, they may jump back a few sentences, just to make sure that they read something right. When you regress like this, you lose the flow and structure of the text, and your overall understanding of the subject can decrease.
Be very conscious of regression, and don't allow yourself to re-read material unless you absolutely have to.
To reduce the number of times your eyes skip back, run a pointer along the line as you read. This could be a finger, or a pen or pencil. Your eyes will follow the tip of your pointer, helping you avoid skipping back. The speed at which you read using this method will largely depend on the speed at which you move the pointer.
If you've tried to read while the TV is on, you'll know how hard it is to concentrate on one word, let alone on many sentences strung together. Reading has to be done in an environment where external distractions are kept to a minimum.
To improve your concentration   as you read, stop multitasking while reading, and remove any distractions  . This is particularly important, because when you use the techniques of chunking blocks of words together and ceasing to sub-vocalize, you may find that you read several pages before you realize you haven't understood something properly.
Pay attention to "internal distractions" as well. If you're rehashing a heated discussion, or if you're wondering what to make for dinner, this will also limit your ability to process information.
Sub-vocalization actually forces your brain to attend to what you're reading, and that's why people often say that they can read and watch TV at the same time. To become an efficient reader, you need to avoid this.
We're taught to read across and down, taking in every word, sentence, paragraph and page in sequence.
When you do this, though, you pay the same attention to supplementary material as you do to core information. (Often, much more information is presented than you actually need to know.)
Overcome this by scanning the page for headings, and by looking for bullet points and things in bold. There is no rule saying that you have to read a document in the order that the author intended, so scan it quickly, and decide what is necessary and what isn't. Skim over the fluff, and only pay attention to the key material.
As you read, look for the little extras that authors add to make their writing interesting and engaging. If you get the point, there's no need to read the example or anecdote. Similarly, decide what you need to re-read as well. It's far better to read one critical paragraph twice than it is to read another eight paragraphs elaborating on that same concept.
Knowing the "how" of speed reading is only the first step. You have to practice it to get good at it. Here are some tips that will help you break poor reading habits and master the speed reading skills discussed above.
There are many other strategies that you can use to improve your reading, as well as your comprehension.
See our articles on SQ3R   and Review Techniques   to learn how to improve your reading retention; that is, how long you remember the information you're reading.
Also, having the right information is just as important as knowing how to read it. Learn how to gather information more effectively in our article, Information Gathering  .
Speed reading is a skill that can be learned. It mostly involves breaking poor habits that you may have developed since you learned to read. Simply becoming a faster reader isn't the point, either – you want to become a more efficient reader.
There are some great techniques that you can use when practicing speed reading, including reading blocks of words, and breaking the habit of sub-vocalization.
Whichever techniques you apply, you must always be aware of the purpose of your reading and decide whether speed reading is the most appropriate approach.
When applied correctly and practiced diligently, speed reading can significantly improve your overall effectiveness, as it frees up precious time and allows you to work more efficiently in other areas.
- See more at: http://www.mindtools.com/speedrd.html#sthash.RNEoIs12.dpuf